TERIMA KASIH, TUHAN
Berhembuslah angin semilir yang menerpa
tubuhku. Lembut menyentuh kulitku, meskipun sedikit merinding aku merasakannya. Menutup mataku di
bangku taman ini. Bukan karena taman ini membosankan, tetapi berusaha mencoba
bersatu dengan taman ini, merasakan ketenangan dan kedamaian taman ini.
Aku mulai membuka mataku. Berharap
ada kujutan di depanku.Tetapi semua ternyata masih sama. Taman ini dengan
berbagai bunga-bunga dan pohon cemara. Danau buatan di tengah taman menambah
indahnya taman ini disertai hawa sejuk pegunungan. Sangat indah dan menyenagkan
untuk dipandang. Tetapi sayangnya, semua orang belum bisa melihat keindahan
taman ini. Mungkin salah satu diantara mereka buta.
Tiba-tiba ada sesuatu yang melesat
dalam otakku. Malam itu, yang belum terlalu larut. Ternyata ada kata yang
terucap dari lelaki itu. Kata-kata yang tak ingin aku dengar walau, satu kata
pun. “Nak, jangan nakal. Nia sayang ayah, kan? Jika sayang berjanjilah
kepadaku.”, tatapannya sangat berbeda dari yang aku tahu.
“Berjanji apa, yah? Ayah akan pergi
jauh? Dan aku tidak diajak? Aku sendiri ayah”, mataku mulai terasa berair.
“Jangan cengeng, sayang. Ayah tidak
akan pergi lama. Jika Nia rindu ayah lihatlah foto ayah dan pandanglah langit,
sayang. Mintalah kepada Tuhan, biar ayah cepat pulang. Ayah pergi jauh juga
untuk masa depanmu. Doa ayah selalu menyertaimu.”
“Nia sangat sayang ayah. Sayang.
Sayang. Sayang. Ayah juga kan?”, aku
merangkulnya sekuat mungkin.
“Ayah akan lebih sayang kamu, jika suatu
hari nanti kamu bisa menjadi perempuan yang hebat dan...tidak cengeng. Ingat
kan?”, aku hanya menganggukkan kepala. Aku tak tahu apa yang sekarang terjadi. Terasa
hampa sekali air mataku yang jatuh saat itu, karena semua ini belum mampu aku
mengerti.
“Mbak, aku titip Nia. Aku yakin dia
takkan membuatmu jengkel, justru dia akan terus membuatmu tersenyum. “, kata
lelaki itu dengan nada yang memelas. Sepertinya semangatnya telah hilang .
“Aku tahu dia. Jaga dirimu
baik-baik. Jangan kecewakan anak semata wayangmu ini.”, tidak menunggu lama,
lelaki itu membalikkan badan dan mulai berjalan pergi. Terlihat raut muka yang sangan berat melangkahkan
kaki. Aku ingin mengatakan sesuatu yang semoga tidak akan terluapakan oleh oleh
lelaki itu. “Nia sayaaang, Ayah!! Sangat
sayang. Sayang. Sayaaang sekali.”, aku hanya mampu mengucapkan itu. Tetapi
balasannya hanya jempol ibu jari kanan. Huh, sedikit kecewa, tetapi itu isyarat
bagiku. Perasaan ayah juga sama denganku.
“Bunga. Bunga. Bunga mawar merah.
Bunga. Bunga”, teriakan si penjual bunga itu telah membawa pergi diriku dari
semua kejadian tadi, juga membawa pergi lelaki itu. Hatiku seakan baru saja
bangun dari tidur yang hanya beberapa saat. Hilang semua secara tiba-tiba
tentang apa yang di pikiranku saat ini. Hari-hari aku lewati penuh harapan yang
belum pasti. Memandang langit siang malam. Bertanya kepada Tuhan dalam hatiku.
Di mana sebenarnya ayah berada, Tuhan? Hanya kata-kata seperti itu yang aku
ungkapkan kepada Tuhan yang dulunya kukira begitu jahat kepadaku.
“Tuhan, aku di sini menunggu ayah.
Bisakah Kau datangkan dia untukku sekarang juga. Maafkan aku jika permintaan ku
melebihi batas. Aku menyayanginya, Tuhan. Sungguh sayang.”
Sekarang apa yang akan aku lakukan?
Tetapkah menunggunya. Meski sambai ubunku tumbuh? Aku tak tahu. Tetapi, aku
berusaha untuk bersabar.
“Mas, sini. Saya mau beli bunga
mawarnya.”, aku memanggil penjual bunga itu. Tak terlihat wajahnya dari
kejauhan , karena tertutup topinya. Dan aku menyadari bahwa parasnya begitu
berbeda dari yang aku pikirkan.
“Ini, mbak. Gratis untuk mbak. Mbak
adalah pelangganku yang pertama hari ini. Silakan.”, dia memberikan satu ikat
kecil bungan mawar. Masih sangat terlihat segar. Wanginya begitu semerbak.
“Kau baik sekali. Tetapi, bukannya
nanti kamu bisa rugi. Aku tetap bayar saja, ya. Berapa sih harganya?”, aku sedikit
sungkan untuk menerima pemberian bunga ini.
“Harganya tidak mahal. Memang saya
sengaja berikan kepada mu. Berharap sudah dari hari-hari yang lalu kau mau
membeli bunga ku. Seperti yang aku lihat, kau hanya diam saat datang ke sini
dan entah mengapa, kau juga selalu tersenyum lembut. Entah kepada siapa.”, kata
penjual bunga itu.
Penjual bunga itu memang berbeda.
Dari parasnya terlihat jelas.”Hah?! Apa kau selalu memperhatikanku dan apa kau
juga benar-benar penjual bunga? Maksudku, eee, paras mu itu seperti orang...”
“Yah, kau benar. Sebenarnya aku
bukanlah penjual bunga. Hidupku sangat tercukupi. Malah lebih menurtku.
Sebenarnya aku melakukannya untuk kakakku yang telah tiada. Dia mirip sekali
denganmu. Dari dulu dia ingin sekali mempunyai taman bunga mawar atau
setidaknya dia bisa membelinya. Tetapi, dia tak pernah bisa. Dia hanya tertidur
di kasurnya, setelah dia mengalami kecelakaan. Berharap ada yang tahu
keinginannya. Tetapi, seakan-akan tidak ada yang mendengarkannya. Aku pun
sering tidak menghiraukan dirinya. Tetapi, sesaat sebelum dia pergi, dia memintaku
agar dia diajak ke luar rumah. Saat itu aku mulai tahu, hal yang diinginkannnya
adalah bunga mawar. Dia menunjuk bunga mawar yang tumbuh di depan rumah
tetanggaku. Sebelum aku mendapatkannya, dia telah pergi. Bodoh! Aku benar-benar
bodoh. Mengapa dulu aku begitu acuh padanya? Ah! Sudahlah. Aku tak mau bicara
itu lagi. Aku hanya ingin memberikan bunga ini, mungkin kakakku takkan mampu
memilikinya. Tetapi aku harap, bunga-bunga ini dapat dimiliki oleh orang-orang
yang membelinya atau orang terdekat dari pembeli bunga ini. Ayahmu mungkin?,
kata penjual bunga.
“Apa?! Ayah ku? Kau bilang ayahku?
Ayahku mungkin masih bersembunyi , di balik lindungan-Nya. Dia belum meninggal.
Hanya bersembunyi. Ayahku pasti akan pulang suatu hari nanti.”, untaian kata
terucap begitu biasa dan biasa juga diikuti air mataku.
“Ayahmu akan pulang. Menurutku
semuanya akan terjadi di sini. Aku memang bukan peramal. Tetapi, aku sering
bermimpi ada gadis yang bertemu ayahnya di sebuah taman. Tidak ada orang lain
selain di taman itu, kecuali gadis itu dan ayahnya. Ayahnya, kelihatan cukup
tua dengan guratan-guratan di pipi yang menggambarkan perjuangan hidup yang begitu
berat. Namun, beliau ditemani beberapa pengawal. Pakaiannya memaki jas, seperti
orang yang sangat kaya. Gadis di mimpiku itu mirip sekali denganmu. Aku mengira
kakakku, tetapi itu tidak mungki, kan? Wajah ayahku berbeda jauh dengan lelaki
tua yang ada di dalam mimpiku. Mimpi itu mulai sering menghampiri diriku ketika
pertama kali aku melihatmu. Aku kadang ingin tersenyum sendiri, karena baru
kali ini aku bermimpi tentang kehidupan orang lain, yang sebenarnya orang itu
juga tidak aku kenal sama sekali. Mirip peramal, kan? Apa aku ini indigo, ya?”,
dia tersenyum seakan tidak percaya lalu
menatapku seakan ingin tahu apakah aku percaya padanya.
Semua ini memang aneh. Mengapa si
penjual bunga ini bermimpi seperti itu? Ini kebetulan ataukah mungkin ini
takdir. Mengapa semua ini terjadi? Setelah sekian lama aku menunggu kedatangan
ayah. Inikah jawaban dari doa ku, Tuhan? Semoga saja benar. Aku sungguh tidak
mengerti mengerti. Aku masih terus termenung dengan semua ini.”Kau baik-baik
saja kan? “, tanya di penjual bunga ini, tetapi air mataku seakan telah menutup
telingaku. Aku seakan tak mendengar apapun untuk sesaat. Wajah ayah tiba-tiba
munsul lagi dalam pikiranku.
“Hei, jangan menangis, maafkan aku
jika aku telah salah bicara. Aku memang keterlaluan. Aku sungguh menyesal”, si
penjual bungan itu merasa bersalah kepadaku.
“Aku tak apa-apa. Ini terasa aneh
bagiku. Aku belum bisa percaya sepenuhnya. Namun, berkat ucapanmu harapanku
semakin besar untuk tetap menunggu kedatangan ayahku. Walau pun semua terlihat
semu. Terima kasih.”, aku mengangkat tangan ku untuk berjabat tangan dan dia
membalasnya. Tanpa waktu lama, dia beranjak pergi untuk menjajakan bunganya
lagi.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul
17.25 WIB. Petang telah datang membuat sebagian burung-burung pulang ke sarang.
Langit telah memerah dan semua ini menandai berakhirnya keperkasaan sang
mentari hari ini. Sedikit demi sidikit lampu taman mulai menyala dan aku pun memutuskan
untuk pulang. Tetapi, bagaimana dengan ucapan si penjual bunga tadi? Haruskan
aku acukan? Sepertinya demikian, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Setelah hampir sampai di depan pintu
gerbang taman, aku tersadarkan oleh sesuatu. Bunga mawarku tertinggal di bangku
taman. Aku sempat ingin membiarkannya, tetapi aku merubah pikiranku. Aku
sedikit berlari lebih cepat karena taman sudah mulai sepi. Tiba-tiba, seperti
ada penghalang besar yang menghantam tubuhku, langkahku menjadi terhenti
seketika. Melihat bunga mawarku sedang dipegang oleh seorang lelaki paru baya.
Tetapi, wajahnya menggambarkan beliau telah lebih tua. Selangkah demi selangkah
aku mendekat dan entah mengapa ini membuat saraf-sarafku tegang. Jantungku juga
berdebar-debar. Lelaki paru baya itu seperti tak asing untukku. Wajah yang
ternyum itu mengembalikanku pada malam itu lagi. Aku serasa ingin pingsan
melihat semua ini. Mulutku sedikit ternganga melihat lelaki paru baya itu.
“Ayy..yah? Ayah. Bukankah kau ayahku,” aku belum tau lelaki paru baya itu akan
menjawab apa. Ya atau tidak? Ya, Tuhan betapa kagetnya aku ketika lelaki itu
menganggukkan kepala. Aku pun langsung menghampiri dan bersimpuh di depannya.
Lelaki itu membelai rambutku dengan santainya dan mengusap air mataku yang tak
kuasa aku menghentikannya. Aku memeluk lelaki itu seerat yang aku mampu.
Tangisan ku seakan memecah petang di taman yang memang sepi ini. Betapa Tuhan
sangan mengerti apa yang aku inginkan. Tuhan, untaian doaku telah membuahkan
hasil. Anugerah-Mu datang di taman yang seindah ini, aku sungguh tidak
menyangka bahwa mimpi si penjual bunga itu benar.
Dalam hatiku, aku hanya mampu
mengucap berjuta-juta ucapan syukur kepada-Nya. Dalam pelukan ayahku itu aku
berkata, “Tuhan, Kau telah pertemukan diriku dengan ayahku. Terima kasih atas
segala kebaikan-Mu untukku dan ayahku.
Kau selalu menyayangi dan mengasihi umat-Mu. ”
Aku pun tak lupa memberi doa kepada
si penjual bunga itu.”Semoga Kau lindungi dia, di mana pun dia berada. Semoga
anugerah juga senantiasa menghampiri dia dak keluarganya.”
**TAMAT**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar