Jumat, 27 Januari 2012

TERIMA KASIH, TUHAN
           
            Berhembuslah angin semilir yang menerpa tubuhku. Lembut menyentuh kulitku, meskipun sedikit  merinding aku merasakannya. Menutup mataku di bangku taman ini. Bukan karena taman ini membosankan, tetapi berusaha mencoba bersatu dengan taman ini, merasakan ketenangan dan kedamaian taman ini.
            Aku mulai membuka mataku. Berharap ada kujutan di depanku.Tetapi semua ternyata masih sama. Taman ini dengan berbagai bunga-bunga dan pohon cemara. Danau buatan di tengah taman menambah indahnya taman ini disertai hawa sejuk pegunungan. Sangat indah dan menyenagkan untuk dipandang. Tetapi sayangnya, semua orang belum bisa melihat keindahan taman ini. Mungkin salah satu diantara mereka buta.
Tiba-tiba ada sesuatu yang melesat dalam otakku. Malam itu, yang belum terlalu larut. Ternyata ada kata yang terucap dari lelaki itu. Kata-kata yang tak ingin aku dengar walau, satu kata pun. “Nak, jangan nakal. Nia sayang ayah, kan? Jika sayang berjanjilah kepadaku.”, tatapannya sangat berbeda dari yang aku tahu.
            “Berjanji apa, yah? Ayah akan pergi jauh? Dan aku tidak diajak? Aku sendiri ayah”, mataku mulai terasa berair.
            “Jangan cengeng, sayang. Ayah tidak akan pergi lama. Jika Nia rindu ayah lihatlah foto ayah dan pandanglah langit, sayang. Mintalah kepada Tuhan, biar ayah cepat pulang. Ayah pergi jauh juga untuk masa depanmu. Doa ayah selalu menyertaimu.”
            “Nia sangat sayang ayah. Sayang. Sayang. Sayang. Ayah juga kan?”,  aku merangkulnya sekuat mungkin.
            “Ayah akan lebih sayang kamu, jika suatu hari nanti kamu bisa menjadi perempuan yang hebat dan...tidak cengeng. Ingat kan?”, aku hanya menganggukkan kepala. Aku tak tahu apa yang sekarang terjadi. Terasa hampa sekali air mataku yang jatuh saat itu, karena semua ini belum mampu aku mengerti.

            “Mbak, aku titip Nia. Aku yakin dia takkan membuatmu jengkel, justru dia akan terus membuatmu tersenyum. “, kata lelaki itu dengan nada yang memelas. Sepertinya semangatnya telah hilang .
            “Aku tahu dia. Jaga dirimu baik-baik. Jangan kecewakan anak semata wayangmu ini.”, tidak menunggu lama, lelaki itu membalikkan badan dan mulai berjalan pergi.  Terlihat raut muka yang sangan berat melangkahkan kaki. Aku ingin mengatakan sesuatu yang semoga tidak akan terluapakan oleh oleh lelaki itu.  “Nia sayaaang, Ayah!! Sangat sayang. Sayang. Sayaaang sekali.”, aku hanya mampu mengucapkan itu. Tetapi balasannya hanya jempol ibu jari kanan. Huh, sedikit kecewa, tetapi itu isyarat bagiku. Perasaan ayah juga sama denganku.
            “Bunga. Bunga. Bunga mawar merah. Bunga. Bunga”, teriakan si penjual bunga itu telah membawa pergi diriku dari semua kejadian tadi, juga membawa pergi lelaki itu. Hatiku seakan baru saja bangun dari tidur yang hanya beberapa saat. Hilang semua secara tiba-tiba tentang apa yang di pikiranku saat ini. Hari-hari aku lewati penuh harapan yang belum pasti. Memandang langit siang malam. Bertanya kepada Tuhan dalam hatiku. Di mana sebenarnya ayah berada, Tuhan? Hanya kata-kata seperti itu yang aku ungkapkan kepada Tuhan yang dulunya kukira begitu jahat kepadaku.
            “Tuhan, aku di sini menunggu ayah. Bisakah Kau datangkan dia untukku sekarang juga. Maafkan aku jika permintaan ku melebihi batas. Aku menyayanginya, Tuhan. Sungguh sayang.”
            Sekarang apa yang akan aku lakukan? Tetapkah menunggunya. Meski sambai ubunku tumbuh? Aku tak tahu. Tetapi, aku berusaha untuk bersabar.
            “Mas, sini. Saya mau beli bunga mawarnya.”, aku memanggil penjual bunga itu. Tak terlihat wajahnya dari kejauhan , karena tertutup topinya. Dan aku menyadari bahwa parasnya begitu berbeda dari yang aku pikirkan.
            “Ini, mbak. Gratis untuk mbak. Mbak adalah pelangganku yang pertama hari ini. Silakan.”, dia memberikan satu ikat kecil bungan mawar. Masih sangat terlihat segar. Wanginya begitu semerbak.
            “Kau baik sekali. Tetapi, bukannya nanti kamu bisa rugi. Aku tetap bayar saja, ya. Berapa sih harganya?”, aku sedikit sungkan untuk menerima pemberian bunga ini.
            “Harganya tidak mahal. Memang saya sengaja berikan kepada mu. Berharap sudah dari hari-hari yang lalu kau mau membeli bunga ku. Seperti yang aku lihat, kau hanya diam saat datang ke sini dan entah mengapa, kau juga selalu tersenyum lembut. Entah kepada siapa.”, kata penjual bunga itu.
            Penjual bunga itu memang berbeda. Dari parasnya terlihat jelas.”Hah?! Apa kau selalu memperhatikanku dan apa kau juga benar-benar penjual bunga? Maksudku, eee, paras mu itu seperti orang...”
            “Yah, kau benar. Sebenarnya aku bukanlah penjual bunga. Hidupku sangat tercukupi. Malah lebih menurtku. Sebenarnya aku melakukannya untuk kakakku yang telah tiada. Dia mirip sekali denganmu. Dari dulu dia ingin sekali mempunyai taman bunga mawar atau setidaknya dia bisa membelinya. Tetapi, dia tak pernah bisa. Dia hanya tertidur di kasurnya, setelah dia mengalami kecelakaan. Berharap ada yang tahu keinginannya. Tetapi, seakan-akan tidak ada yang mendengarkannya. Aku pun sering tidak menghiraukan dirinya. Tetapi, sesaat sebelum dia pergi, dia memintaku agar dia diajak ke luar rumah. Saat itu aku mulai tahu, hal yang diinginkannnya adalah bunga mawar. Dia menunjuk bunga mawar yang tumbuh di depan rumah tetanggaku. Sebelum aku mendapatkannya, dia telah pergi. Bodoh! Aku benar-benar bodoh. Mengapa dulu aku begitu acuh padanya? Ah! Sudahlah. Aku tak mau bicara itu lagi. Aku hanya ingin memberikan bunga ini, mungkin kakakku takkan mampu memilikinya. Tetapi aku harap, bunga-bunga ini dapat dimiliki oleh orang-orang yang membelinya atau orang terdekat dari pembeli bunga ini. Ayahmu mungkin?, kata penjual bunga.
            “Apa?! Ayah ku? Kau bilang ayahku? Ayahku mungkin masih bersembunyi , di balik lindungan-Nya. Dia belum meninggal. Hanya bersembunyi. Ayahku pasti akan pulang suatu hari nanti.”, untaian kata terucap begitu biasa dan biasa juga diikuti air mataku.
            “Ayahmu akan pulang. Menurutku semuanya akan terjadi di sini. Aku memang bukan peramal. Tetapi, aku sering bermimpi ada gadis yang bertemu ayahnya di sebuah taman. Tidak ada orang lain selain di taman itu, kecuali gadis itu dan ayahnya. Ayahnya, kelihatan cukup tua dengan guratan-guratan di pipi yang menggambarkan perjuangan hidup yang begitu berat. Namun, beliau ditemani beberapa pengawal. Pakaiannya memaki jas, seperti orang yang sangat kaya. Gadis di mimpiku itu mirip sekali denganmu. Aku mengira kakakku, tetapi itu tidak mungki, kan? Wajah ayahku berbeda jauh dengan lelaki tua yang ada di dalam mimpiku. Mimpi itu mulai sering menghampiri diriku ketika pertama kali aku melihatmu. Aku kadang ingin tersenyum sendiri, karena baru kali ini aku bermimpi tentang kehidupan orang lain, yang sebenarnya orang itu juga tidak aku kenal sama sekali. Mirip peramal, kan? Apa aku ini indigo, ya?”, dia tersenyum seakan tidak percaya  lalu menatapku seakan ingin tahu apakah aku percaya padanya.
            Semua ini memang aneh. Mengapa si penjual bunga ini bermimpi seperti itu? Ini kebetulan ataukah mungkin ini takdir. Mengapa semua ini terjadi? Setelah sekian lama aku menunggu kedatangan ayah. Inikah jawaban dari doa ku, Tuhan? Semoga saja benar. Aku sungguh tidak mengerti mengerti. Aku masih terus termenung dengan semua ini.”Kau baik-baik saja kan? “, tanya di penjual bunga ini, tetapi air mataku seakan telah menutup telingaku. Aku seakan tak mendengar apapun untuk sesaat. Wajah ayah tiba-tiba munsul lagi dalam pikiranku.
            “Hei, jangan menangis, maafkan aku jika aku telah salah bicara. Aku memang keterlaluan. Aku sungguh menyesal”, si penjual bungan itu merasa bersalah kepadaku.
            “Aku tak apa-apa. Ini terasa aneh bagiku. Aku belum bisa percaya sepenuhnya. Namun, berkat ucapanmu harapanku semakin besar untuk tetap menunggu kedatangan ayahku. Walau pun semua terlihat semu. Terima kasih.”, aku mengangkat tangan ku untuk berjabat tangan dan dia membalasnya. Tanpa waktu lama, dia beranjak pergi untuk menjajakan bunganya lagi.
            Jam tanganku telah menunjukkan pukul 17.25 WIB. Petang telah datang membuat sebagian burung-burung pulang ke sarang. Langit telah memerah dan semua ini menandai berakhirnya keperkasaan sang mentari hari ini. Sedikit demi sidikit lampu taman mulai menyala dan aku pun memutuskan untuk pulang. Tetapi, bagaimana dengan ucapan si penjual bunga tadi? Haruskan aku acukan? Sepertinya demikian, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
            Setelah hampir sampai di depan pintu gerbang taman, aku tersadarkan oleh sesuatu. Bunga mawarku tertinggal di bangku taman. Aku sempat ingin membiarkannya, tetapi aku merubah pikiranku. Aku sedikit berlari lebih cepat karena taman sudah mulai sepi. Tiba-tiba, seperti ada penghalang besar yang menghantam tubuhku, langkahku menjadi terhenti seketika. Melihat bunga mawarku sedang dipegang oleh seorang lelaki paru baya. Tetapi, wajahnya menggambarkan beliau telah lebih tua. Selangkah demi selangkah aku mendekat dan entah mengapa ini membuat saraf-sarafku tegang. Jantungku juga berdebar-debar. Lelaki paru baya itu seperti tak asing untukku. Wajah yang ternyum itu mengembalikanku pada malam itu lagi. Aku serasa ingin pingsan melihat semua ini. Mulutku sedikit ternganga melihat lelaki paru baya itu. “Ayy..yah? Ayah. Bukankah kau ayahku,” aku belum tau lelaki paru baya itu akan menjawab apa. Ya atau tidak? Ya, Tuhan betapa kagetnya aku ketika lelaki itu menganggukkan kepala. Aku pun langsung menghampiri dan bersimpuh di depannya. Lelaki itu membelai rambutku dengan santainya dan mengusap air mataku yang tak kuasa aku menghentikannya. Aku memeluk lelaki itu seerat yang aku mampu. Tangisan ku seakan memecah petang di taman yang memang sepi ini. Betapa Tuhan sangan mengerti apa yang aku inginkan. Tuhan, untaian doaku telah membuahkan hasil. Anugerah-Mu datang di taman yang seindah ini, aku sungguh tidak menyangka bahwa mimpi si penjual bunga itu benar.  
            Dalam hatiku, aku hanya mampu mengucap berjuta-juta ucapan syukur kepada-Nya. Dalam pelukan ayahku itu aku berkata, “Tuhan, Kau telah pertemukan diriku dengan ayahku. Terima kasih atas segala kebaikan-Mu untukku dan ayahku.  Kau selalu menyayangi dan mengasihi umat-Mu. ”
            Aku pun tak lupa memberi doa kepada si penjual bunga itu.”Semoga Kau lindungi dia, di mana pun dia berada. Semoga anugerah juga senantiasa menghampiri dia dak keluarganya.”

**TAMAT**




Tidak ada komentar: